Home
Article
Project
Gallery
Contact
 
Link
  Alutsista
  Berita Hankam
  Defense Studies
  TANDEF
  Angkasa Readers
  Indoflyer.Net
 
Industri Militer
  IAe
  Pindad
  PAL
  LEN Industri
  Dahana
  Dok Kodja Bahari
  Lundin
  SSE Armored
  RCS Solusi 247
  Jakarta Aerospace
  Robo Aero
  Pacific Tech
  Aviator
  UAV Indo
  Rekayasa Teknologi
  Amadani
  RMTindo
  Sari Bahari
  CV. Maju Mapan
 
Home > Article > Teknologi Airframe, Dasar Pengembangan Industri Dirgantara

Teknologi Airframe, Dasar Pengembangan Industri Dirgantara
5 Juni 2006 9:03:10 AM

Terlepas dari keberadaan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang menjadi ujung tombak dalam pengembangan teknologi dirgantara di Indonesia, pengembangan industri dirgantara di Indonesia secara keseluruhan belum memiliki kemajuan yang berarti.

Banyak kendala yang menghambat kemajuannya seperti teknologi dirgantara masih merupakan barang asing bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Keberadaannya masih terpusat di dalam lingkungan terbatas misalnya dalam kelompok Pecinta Dirgantara.

Lalu minimnya sarana informasi yang dapat diperoleh oleh rakyat awam (majalah dirgantara Indonesia sejauh ini baru satu, yaitu Angkasa), dan alam perundang-undangan yang masih membatasi pengembangan industri kedirgantaraan di Indonesia (industri dirgantara indonesia masih dibatasi pada lingkungan terbatas), merupakan kendala utama di dalam pengembangannya.

Bagi sebagian besar rakyat Indonesia berbicara mengenai teknogi dirgantara yang terbayang adalah sesuatu yang amat rumit, berteknologi tinggi, serta berharga mahal yang berada jauh di awang-awang. Padangan seperti itu ada benarnya, tapi juga mengandung persepsi yang keliru. Hal ini bisa dimaklumi karena masuknya teknologi dirgantara ke Indonesia terjadi di saat teknologi ini telah telanjur berkembang puluhan tahun. Dan beragam tipe yang hadir adalah tipe-tipe untuk kebutuhan operasional berat (sipil maupun militer). Sehingga yang hadir adalah sesuatu yang telah amat komplek dan berharga tinggi.

Padahal, bila kita melihat pada tempat negara-negara tempat teknologi dirgantara ini berkembang, berbagai tipe pesawat yang diperuntukan kebutuhan operasional berat hanyalah sebagian dari keaneka ragaman tipe yang ada di dalam dunia dirgantara --yang ternyata tidak seluruhnya memiliki kerumitan yang sebegitu tinggi.

Sebagai contoh adalah pesawat-pesawat swayasa (kitplanes) yang banyak dimiliki oleh rakyat biasa. Pesawat ini menampilkan keanekaragaman design dan tipe. Mulai dari pesawat-pesawat aerobatik, pesawat olah raga, dan berbagai pesawat eksperimental lainnya. Pesawat ini tidak mengandung teknologi yang terlalu rumit dan juga berharga relatif murah (kurang lebih sama dengan harga mobil). Keaneka ragaman tersebut menumbuhsuburkan industri kedirgantaraan hingga menyentuh level industri rumah tangga.

Aspek Airframe

Teknologi kedirgantaraan secara garis besar meliputi aspek airframe, mesin, dan instrumen. Secara umum tahapan produksi pada industri-industri kedirgantaraan di dunia terfokus hanya pada satu aspek yang menghasilkan spesialisasi di bidangnya masing-masing, yang saling menunjang satu dengan lainnya.

Airframe (body), tanpa bermaksud mengecilkan arti penting aspek-aspek lainnya, merupakan salah satu komponen penentu dalam tahap industri ini. Pengembangan airframe merupakan motor utama bagi aspek-aspek lainnya. Walaupun, di dalam suatu sistem pesawat terbang airframe bila tanpa menggunakan mesin juga tidak akan dapat mengudara. Begitu pun sebaliknya. Namun sebagai dudukan mesin, airframe merupakan faktor utama yang menentukan kinerja sistem pesawat secara keseluruhan.

Airframe merupakan elemen dasar. Bila mesin dan instrumen tersedia secara luas di pasaran, maka tidak begitu halnya dengan airframe. Kedudukan mesin dan instrumen lebih pada posisi sebagai pemasok pada suatu industri pesawat terbang yang notebene adalah industri pada airframe pesawat terbang (beserta aspek bawaannya meliputi sistem kelistrikan dan kontrol penerbangan).

Suatu produk pesawat terbang dapat dilengkapi dengan berbagai mesin dan instrumen yang telah tersedia. Sebagai contoh pesawat Airbus A-350-900 yang mampu mengangkut 300 penumpang dapat di tenagai oleh mesin GEnx dari General Electric atau Trent 1700 dari Rolls-Royce (Angkasa, Mei 2006). Dalam kasus tersebut Airbus menggunakan General Electric dan Rolls-Royce sebagai pemasok mesin bagi airframe yang diproduksinya yaitu A-350-900.

Pada airframe terdapat sistem daya angkat (sayap), sistem kendali penerbangan (aileron, rudder, flaps), dan perhitungan-perhitungan lain yang membuat pesawat secara umum sanggup untuk melayang dan bermanuver. Disamping itu airframe merupakan faktor utama yang menentukan bagaimana bentuk dan rupa pesawat terbang.

Kekuatan struktur airframe merupakan hal utama yang harus diperhatikan dalam pengembangannya. Struktur yang baik harus memenuhi kaidah kuat tapi efisien dalam penggunakan material yang membangunnya. Bagi pesawat terbang, bobot airframe yang ringan adalah suatu keharusan karna berguna untuk meningkatkan daya angkut (payload). Daya angkut yang cukup sangat diperlukan agar dapat mengangkut bobot mesin, bobot pilot, bobot cargo, dan bobot perangkat lainnya.

Rupa dan bentuk airframe merupakan hal lain yang harus diperhatikan. Pada masyarakat awam, peminat maupun pemerhati penerbangan, saat melihat pesawat terbang, biasanya yang pertama kali akan diperhatikan adalah bentuk dan rupanya. Perihal bagaimana kemampuan dan kinerjanya adalah urusan berikutnya. Apakah ia cantik atau buruk rupa, sangar atau lembut, menggetarkan ataukah biasa saja adalah hal-hal yang terpancar dari rupa suatu airframe.

Pada airframe pulalah ketertarikan orang pada suatu produk pertama kali terbentuk. Dan pada airframe pula biasanya untuk pertama kali masyarakat awam tertarik untuk lebih mengetahui dan mengagumi suatu pesawat terbang secara khususnya ataupun dunia kedirgantaraan pada umumnya. Sebagai identitas suatu produk, airframe seringkali menentukan keunikan suatu design pesawat terbang dan pembentuk image pabrikannya. Ciri-ciri yang dimilikinya membedakannya antara tipe yang satu dengan yang lain.

Sangat dibutuhkan kreativitas, imajinasi, dan daya seni untuk menghasilkan airframe yang bagus dan menarik. Dibutuhkan juga penguasaan di bidang fisika dan matematika yang baik untuk dapat mewujudkan dari sekadar gambar rancangan menjadi sosok pesawat terbang yang utuh. Tanpa penguasaan di bidang ini design airframe yang bagus tidak akan lebih dari sekedar gambar rancangan yang tidak ada artinya.

Struktur airframe yang baik tidaklah harus rumit dan berat. Segalanya di sesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan yang diperlukan. Sebagai contoh pesawat-pesawat kitplanes (swayasa), yang kadang disebut juga sebagai pesawat eksperimental, secara umum adalah pesawat-pesawat yang memiliki struktur airframe yang tidak terlalu rumit. Dalam banyak design sering kali struktur airframe tidak secara langsung membentuk rupa airframe, melainkan struktur utama yang menopang titik-titik beban dan titik-titik stress pada struktur secara sederhana.

Rupa airframe sering kali baru dibentuk oleh material kulit yang sama sekali tidak memiliki andil dalam menentukan kekuatan struktur. Pun begitu pesawat swayasa dengan instrumennya yang seringkali amat sederhana dan standar secara umum adalah pesawat yang telah memenuhi standar keselamatan penerbangan. Bahkan dalam beberapa tipe guna keperluan aerobatik sanggup untuk menahan beban manuver yang amat tinggi dengan hasil memuaskan.

Penguasaan di bidang teknologi airframe, pada bagian yang lain dapat menghasilkan tumbuhnya berbagai industri di bidang kedirgantaraan. Pengembangannya dapat dilakukan oleh banyak pihak sehingga kemajuan yang didapatkan tidak terpusat pada satu lembaga saja. Pada akhirnya kemajuan tersebut akan berjalan lebih cepat karena dilakukan secara bersama-sama.

Penciptaan iklim perundang-undangan yang mendukung tumbuh suburnya industri kedirgantaraan juga perlu mendapat perhatian agar hasrat untuk maju dan kemajuan yang telah dicapai dapat tersalurkan dan tidak sia-sia. Karena, di negara ini sesungguhnya terdapat banyak warga negara yang berpotensi dan memiliki kemampuan untuk menumbuh suburkan industri kedirgantaraan.

Jangan karena alasan iklim perundangan, potensi-potensi tersebut terhambat dan memberi kesempatan negara lain untuk tumbuh berkembang meninggalkan kita, atau yang lebih buruk adalah tumbuhnya industri kedirgantaraan di negara lain yang dilakukan oleh orang-orang dari negara kita yang dilakukan semata-mata karna kurangnya dukungan di negara sendiri. (I.G.Wijayana)

nb. Tulisan ini pernah dimuat pada Angkasa-Online pada tanggal 5 Juni 2009

 

 
© 2011, SayapKu.Com